#TalkAbout Memilih Pendidikan

20.52.00

source
Halo semua!

Jadi harusnya hari ini Cilla ngepost review gincu. Foto-fotonya lagi kuedit, draft posting sudah ada, tapi tiba-tiba aku kepikiran untuk ngepost tentang hal ini. Berhubung ini sudah mulai bulan-bulan SBMPTN, tes masuk universitas, tes masuk SMA dan lain-lain, dan pasti banyak orang yang bingung memilih masa depan, so, aku mau mencoba sharing pengalamanku dulu saat memutuskan memilih pendidikan.

Memilih pendidikan, terutama setelah kamu lulus SMA/sederajat, adalah hal yang menakutkan, gue akuin. Kenapa? Karena kamu akan memilih dimana kah kamu akan ‘terjebak’ for the rest of your life. Memang sih banyak orang-orang yang setelah kuliah malah punya pekerjaan yang nggak berhubungan dengan pendidikannya dia, tapi aku percaya kalau kuliah itu gak Cuma membangun ilmu kamu tapi juga pola pikir, logika, dan skill kamu. Judulnya sih sama saja kali ya dengan terjebak, hehehe.

Kalau kamu gamau melanjutkan pendidikan dan mau langsung kerja karena satu dan lain hal, it's okay too. Hidupmu nak, sak-sakmu. 

source 

Bagaimana sih caranya memilih pendidikan?

Yang pertama menurutku penting itu adalah, kamu mau lanjut ke bidang apa. Mau ilmu alam atau ilmu sosial. Mau ilmu dasar atau ilmu aplikatif. Mau tehnik atau ekonomi. Yang perlu kamu pikirkan adalah passion, lapangan pekerjaan, dan restu orang tua. Yap, restu orang tua gak boleh dilupakan guys.

Yang kedua, pilih jenjang pendidikannya. Ada beberapa jenjang pendidikan yang bisa kamu pilih setelah SMA, yaitu S1, D4, D3, atau D1. Ada beberapa pertimbangan tentang memilih jenjang, terutama di lama pendidikan dan lapangan pekerjaannya. Pendidikan S1 nggak selalu lebih baik daripada D3 atau D4. Ataupun sebaliknya. Misalkan, pendidikan S1 pasti lebih lama karena pendidikannya minimal 3.5 tahun, belum lagi menyelesaikan skripsinya yang paling bikin pusing sejuta mahasiswa, beda dengan D3 atau D4 yang tugas ujian akhirnya nggak seberat skripsi dan lama pendidikannya pun lebih cepat, bisa hanya 3 tahun. Pendidikan D3 dan D4 juga lebih praktis dan bisa langsung diaplikasikan dalam pekerjaan, meskipun lapangan pekerjaan dari gelarnya gak seluas S1. Disesuaikan saja dengan diri kamu dan kebutuhan kamu, apakah kamu mau yang pendidikannya lebih cepat dan langsung applicable, atau yang lebih lama tapi lapangannya lebih luas.

Yang ketiga adalah lokasi. Meskipun tempat kuliah kamu seringkali bukanlah pilihan pertama (kayak gue, wkwk), tapi boleh lah kamu cari-cari tahu tentang kehidupan di tempat tersebut. Mulai dari kehidupan perkuliahan, sarana prasarananya, tipe-tipe dosennya, reputasi kampusnya, dan sebagainya.
.
Nah gue mau cerita dulu ini bagaimana ceritanya gue bisa terjebak di perkuliahan ini.
.
.
(beware of the long post guys, Cilla mau ngedongeng dulu).

Jadi ceritanya, Cilla memang dari kecil pengen jadi dokter, bukan paksaan orang tua atau hasil brainwash. Tulus, murni, pingin jadi dokter. Gak tahu kenapa, pokoknya dari dulu kalo ditanya cita-citanya apa ya jadi dokter.

Kayak iklan susu dancow yang dulu, “Cilla kalau gede mau jadi apa?” “Dokteeeel. Bial bica nyembuh-nyembuhin teman-teman Cilla yang sakiiiiiiit.” Tapi gue gak seimut itu. Yha.

Dulu waktu kecil gue sakit-sakitan. Bukan sakit berat sih, Cuma memang gue dari kecil sering demam batuk pilek yang setelah belasan tahun kemudian diketahui ternyata gue memang ada rhinitis vasomotor*. Dulu gue punya dokter anak langganan yang baik dan super lovable, namanya dr.Tatang, Sp.A. Gue gatau dokternya sekarang masih ada apa enggak, kerjanya dimana, tinggalnya sudah pindah apa belum, tapi yang jelas kalo gue bisa ketemu lagi, gue mau berterima kasih karena beliau sudah menjadi inspirasi terbesar gue untuk jadi dokter.

*Rhinitis vasomotor = radang pada hidung yang disebabkan oleh perubahan lingkungan, kayak perubahan suhu, perubahan kelembaban, dll.

Mimpi gue sempat terhentikan waktu SMP karena nilai biologi gue waktu SMP jelek. Gue gak ngerti banget dulu sama pelajaran biologi tanaman, sel, gitu2 karena hapalannya kudu hapal mati, dan gue tipe anak yang menghapalkan dengan logika (yang bentuknya pathway gitu gue akan jauh lebih mudeng). Dan di SMA, sempet tergantikan pingin Kimia atau Tehnik Kimia karena turns out gue suka kimia. Tapiiii dengan beberapa pertimbangan dan doa, gue tetap memutuskan untuk mencoba kedokteran. Alasan utama gue ingin masuk kedokteran cukup klise dan humanitarian banget sih, karena gue pengen bisa nyembuhin orang sakit. Cerita dikit, nyokap gue meninggal 4 tahun yang lalu karena kanker, dan itu juga jadi salah satu motivasi gue untuk jadi dokter. Untungnya nyokap sudah sempet liat anaknya jadi mahasiswa kedokteran, sayangnya belum sempet saja liat gue S.Ked dan (semoga segera) resmi jadi dokter.

Perjalanan gue buat masuk kedokteran itu penuh peluh keringat dan air mata. Eaaaa hahaha kedengerannya lebay banget but it’s true.

Gue mulai dengan drama konflik gue dengan salah satu guru di SMA, yaitu guru kimia gue. Buat yang satu SMA sama gue pasti ngerti lah yaaa masalah apa yang dimaksud haha. Gue gak mau cerita tentang ‘masalah’ ini, tapi pokoknya beliau memberikan nilai kimia gue di rapot yang merusak peluang gue untuk daftar SNMPTN Undangan.

Jadi waktu tahun gue dulu, yang boleh daftar SNMPTN Undangan (jalur masuk PTN tanpa tes) hanyalah orang-orang dengan peringkat nilai mata pelajaran utamanya termasuk 50% pertama di semester 1-5. Sayangnya, gue nggak masuk peringkat 50% pertama di semester 3 karena ‘masalah’ ini. Gue sudah drama banget sampe mewek di sekolahan dan ditanyain sejuta teman-teman gue,”Gimana Cil? Bisa daftar?” dan dibalas dengan muka iba. Ujian hidup nomor satu, keadilan memang sulit ditegakkan :”)

Gue anaknya memang sangat pushy terhadap diri sendiri, dan kalo sudah kecewa itu bisa sesedih itu sampe bisa nangis. Gue nangis karena kecewa sama diri gue sendiri.

So, setelah kejadian ini, setelah peristiwa gue mewek-mewek, gue memutuskan untuk menguatkan diri dan fokus untuk belajar lulus SMA dan lulus SNMPTN. Karena gue sadar gue bukan anak super pinter yang peringkat 5 besar, tapi impian gue buat masuk kedokteran sangat besar, tapi gue gak mau masuk universitas swasta dan gak mau keluar pulau jawa, jadi gue sadar harus berjuang mati-matian. Gue gak mau masuk swasta karena gak tega sama orang tua gue buat bayarin kuliah kedokteran swasta yang mahal, dan gak mau keluar pulau jawa karena gak siap terlalu jauh dari rumah. Belajaaaar dan berdoaaaa mulu tiap hari sampe teman-teman gue yang sudah dapet kuliah duluan pada kasian ngajakin gue main hahah.

Cilla 5 tahun yang lalu (iya w udah tua). Masih polos. Masih imut. Disini senyumnya masih palsu karena belum dapet kuliah hahah.

Ternyata ketabahan dan perjuangan gue masih harus diperpanjang, karena gue gak diterima di SNMPTN Tulis. Akhirnya gue daftar berbagai ujian mandiri universitas negeri di pulau jawa, hingga akhirnya gue ditempatkan di Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) di Solo, sebuah universitas yang gue cuma pernah denger sekilas namanya, nggak tahu kayak apa bentukannya, di kota yang gue nggak pernah menginjakkan kaki sama sekali.

Dari peristiwa jatuh bangun penuh peluh dan air mata ini, gue belajar untuk tetap bakoh dan tabah dan semangat sampe akhir. Mungkin inilah yang disebut dengan berjuang demi passion yha :”) Tentu gue dulu sering sedih dan patah semangat kalo ngeliat teman-teman yang sudah dapet kuliah duluan sudah bisa liburan, main-main, sementara gue masih ngendon di bimbel dari jam 8 pagi sampe 4 sore dan makan buku.

Tuh kan gue jadi kepanjangan cerita tentang gue. Jadi salah fokus deh.

Aku harap kalian-kalian yang lagi galau-galaunya bingung mau lanjut kemana abis ini, kalian bisa mendapatkan sedikit hikmah dan pesan dari cerita ini. Nggak ada jurusan yang lebih bagus dibandingkan jurusan lain, nggak ada gelar yang lebih bagus dibandingkan gelar lain. Pilih sesuai dengan passion kamu, skill kamu, dan kebutuhan kamu. Jangan paksain diri masuk psikologi kalau kamu lebih suka ekonomi, atau jangan paksain diri kuliah sarjana kalau dengan kuliah diploma saja kamu bisa dapetin kesempatan pekerjaan yang sama bagusnya. Jangan paksain kuliah kedokteran kalo kamu nggak siap belajar seumur hidup dan sekolah tanpa henti (ceritanya curhat).

Buat kamu yang masih bingung, perbanyak cari info tentang pendidikan yang kamu minati dan kenali dirimu lebih dalam. Passion kamu, keahlian kamu, cita-citamu, keterbatasan dan kelemahan kamu, dan jangan lupa juga restu orang tuamu. Buat kamu yang sudah memantapkan hati, semoga kamu bisa mendapatkan apa yang kamu inginkan dan semoga itu yang terbaik buat kamu. Jangan lupa belajar dan berdoa gengss 😊

semangat buat semua yang berjuang buat pendidikan dan kehidupannya! 

Gimana sih pendapat kalian tentang kegalauan memilih pendidikan ini? Yuk sharing pendapat dan pengalaman kalian di komentar di bawah ini!



Stay young and awesome
Facebook : Mahardhika Kartikandini 
Facebook Page : The Rainbow Days by Cilla
Instagram : @mkartikandini
Google + : Mahardhika Kartikandini
E-mail : mkartikandini@ymail.com
Share this post to your social media! Click the icon down below

You Might Also Like

1 komentar

  1. Wahh menarik. Aku juga 1 tahun yang lalu snm dan sbmptn semuanya nggak lolos, terus ikut Ujian Mandiri berbagai universitas dari negri sampe swasta aku daftar macem2, alhamdulillah nyangkut di Undip:") itu pun lolosnya Ujian Mandiri gelombang 2.. yang gelombang 1 nggak lolos :") the struggle is real wkwkw yah panjang bgt komentar aku

    kaniarda.blogspot.co.id

    BalasHapus

Thank you for reading!

Silahkan tulis comment kamu dibawah ini! Rekomendasi, pertanyaan, feedback, atau follow gfc juga boleh. Please use your real name and e-mail. Spam comments will be block. Thank you!

Popular Posts

Bloglovin'

Communities

Blogger Perempuan
Blogger Babes are Sophisticated Bloggers Seeking Simple Solutions and Support